Kedungmundu — Gaya Hidup sehat atau healthy lifestyle kini menjadi perihal penting dalam kehidupan, terlebih di kalangan mahasiswa yang tengah berada dalam masa produktif dan rentan terhadap berbagai tekanan fisik maupun mental. Menyadari pentingnya hal ini, Kelompok 4 Rencana Tindak Lanjut (RTL) Pelatihan DAD IMM Ar Razy Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) mengadakan sebuah mini project edukasi pada Sabtu (17/10/2026). Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan literasi kesehatan serta mendorong perubahan perilaku yang lebih sehat di kalangan civitas akademika, khususnya mahasiswa.
Edukasi yang mengusung tema Budaya Hidup Sehat di Kalangan Mahasiswa itu langsung disampaikan oleh tim anggota kelompok 4, yakni Yolanda Annisa, Nabila Putri dan Nazalika Dwi, Mahasiswa Fakultas Kesehatan Unimus dan Kader Muda PK IMM Ar Razy.
Pentingnya Mempunyai Perilaku Budaya Hidup Sehat
Dalam paparannya, Yolanda menyampaikan bahwa untuk mencapai hidup yang sehat perlu dilakukan secara sadar dan konsisten.
Beberapa point yang menjadi titik fokus untuk hidup sehat diantaranya memenuhi gizi seimbang melalui konsumsi beragam makanan dengan cukup dan teratur, melakukan aktivitas fisik, memberikan tubuh istirahat yang cukup untuk mendapat tidur yang berkualitas dan tidak begadang, menjaga kebersihan diri serta bebas dari konsumsi rokok dan minuman beralkohol sebagai bentuk preventif dari zat yang merusak tubuh.
Selanjutnya, Naza juga menyampaikan pentingnya membiasakan konsumsi sarapan sebagai modal energi untuk beraktivitas harian, menjaga mood dan konsentrasi belajar, dan menjaga kesehatan sebagai mahasiswa. Hal ini disebabkan oleh sikap mahasiswa yang masih abai dalam mempraktikan keilmuan yang dimiliki diantaranya, terburu-buru, tidak ada waktu yang cukup dan takut terlambat untuk mengikuti kelas maupun dikarenakan tidak terbiasa sarapan.
ia juga, membahas terkait adanya Pedoman Gizi seimbang yang tidak hanya menyorot pengaturan konsumsi makanan bergizi, tetapi juga menekankan perilaku hidup bersih dan sehat. Pedoman ini juga dilengkapi dengan konsep Isi Piringku sebagai acuan pembagian porsi makanan dalam setiap kali makan yang diperuntukkan kebutuhan gizi harian terpenuhi secara seimbang.
Sementara itu, Nabila menyoroti keterkaitan pentingnya kesehatan reproduksi dan pola makan. Hal ini berkaitan erat dengan membantu memenuhi kebutuhan asupan gizi untuk pertumbuhan dan fungsi tubuh, mendukung fungsi hormon dan menstruasi yang sehat, serta berperan dalam menjaga kesehatan reproduksi dan kesuburan.
Ia juga berbagi kebiasaan sehat untuk menjaga kesehatan reproduksi melalui langkah-langkah sederhana yang dapat dilakukan setiap hari secara menyeluruh yang bersumber pada 13 Pesan ilmu gizi serta perlunya membatasi dan paham dampak yang ditimbulkan dari melakukan kebiasaan buruk.
Melalui kegiatan ini, Kelompok 4 RTL Mini Project berharap mahasiswa tumbuh kesadaran akan pentingnya menerapkan pola hidup sehat. Bukan hanya bermanfaat untuk diri sendiri namun juga diharapkan sebagai agent of change yang berani mengambil peran, mampu memberikan edukasi, menjadi teladan dan mau berinisiasi mengajak lingkungan sekitar menerapkan gaya hidup sehat. Dengan demikian, kegiatan ini dapat mendorong terwujudnya budaya hidup sehat di lingkungan kampus dan masyarakat.
Di tengah dinamika kehidupan kampus, keberadaan organisasi mahasiswa (ormawa) tidak hanya menjadi pelengkap aktivitas perkuliahan, tetapi juga menjadi bagian penting dari proses pembentukan diri mahasiswa. Ormawa merupakan salah satu ruang penting bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan di luar kegiatan akademik. Ormawa tidak hanya menjadi tempat berkumpul dan melaksanakan berbagai kegiatan, tetapi juga menjadi ruang untuk belajar mengenai kepemimpinan, komunikasi, kerja sama, tanggung jawab, pengambilan keputusan, serta kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Karena itu, keberlangsungan sebuah ormawa sangat bergantung pada keberhasilan proses kaderisasi dan regenerasi yang dilakukan secara berkelanjutan.
Namun, dalam realitasnya, proses regenerasi kader di berbagai ormawa masih menghadapi sejumlah persoalan. Beberapa hal diantaranya yang menjadi batas nampaknya krisis regenerasi dalam ormawa ketika sudah terjadi kesulitan menghasilkan kader yang mampu meneruskan peran, kepemimpinan, nilai dan arah gerak organisasi secara berkelanjuta, Salah satu persoalan yang cukup terasa adalah adanya kader muda yang belum benar-benar memahami arah, tujuan, dan identitas organisasi yang mereka ikuti. Tidak sedikit mahasiswa yang bergabung dengan ormawa karena ajakan teman, ingin mencari pengalaman, mengikuti kegiatan, atau sekadar memenuhi kebutuhan untuk berorganisasi. Hal tersebut sebenarnya bukan sesuatu yang salah. Akan tetapi, persoalan muncul ketika proses bergabung tidak dilanjutkan dengan proses pengenalan, pembelajaran, dan pendampingan yang membuat kader muda memahami perihal mereka berada di dalam organisasi dan apa yang dapat mereka kontribusikan.
Di sisi lain, ruang bagi kader muda untuk berkembang juga belum selalu tersedia secara memadai. Kader muda terkadang hanya ditempatkan sebagai pelaksana kegiatan, sementara proses pengambilan keputusan dan pengelolaan organisasi masih didominasi oleh Pimpinan. Padahal, kader muda merupakan generasi yang nantinya akan meneruskan keberlangsungan organisasi.
Kondisi tersebut kemudian menimbulkan pertanyaan penting: apakah krisis regenerasi ormawa semata-mata disebabkan oleh kurangnya kemauan kader muda untuk belajar dan berproses?, atau justru Pimpinan organisasi belum sepenuhnya mampu menyediakan lingkungan yang membuat kader merasa memiliki alasan untuk terus bertumbuh di dalamnya?
Menurut saya, krisis regenerasi tidak dapat dilihat hanya dari satu sisi. Ada berbagai batasan saat ormawa mengalami krisis regenerasi kader, Kader muda memang memiliki tanggung jawab untuk memahami organisasi yang mereka pilih. Namun, Pimpinan organisasi juga memiliki tanggung jawab yang sama besar untuk memastikan bahwa setiap kader muda memperoleh proses pembelajaran, pendampingan, serta ruang aktualisasi yang memadai.
Ketika Kader Bergabung, tetapi Tra Memahami Arah Gerak Organisasi
Salah satu persoalan mendasar dalam regenerasi adalah adanya jarak antara kader muda dengan arah dan tujuan organisasi. Seorang mahasiswa mungkin mengetahui nama organisasi, struktur kepengurusan, serta berbagai kegiatan yang dilakukan. Namun, belum tentu ia memahami secara mendalam atas dasar apa organisasi tersebut dibentuk, apa tujuan yang ingin dicapai, serta nilai apa yang seharusnya menjadi dasar dalam menjalankan setiap kegiatan.
Hal ini menjadi persoalan karena tahapan kaderisasi seharusnya tidak berhenti pada proses perekrutan. Memiliki banyak anggota belum tentu berarti sebuah organisasi memiliki regenerasi yang kuat. Regenerasi baru dapat dikatakan berjalan ketika anggota yang masuk mampu memahami nilai organisasi, memiliki kesadaran untuk berproses, serta pada akhirnya siap melanjutkan tanggung jawab kepemimpinan.
Ketika pemahaman serta kesiapan kader muda untuk bertumbuh terhadap arah gerak organisasi yang sudah disiapkan Pimpinan tidak terbentuk sejak awal, kader akan kesulitan menemukan posisi dirinya. Mereka mungkin aktif ketika ada kegiatan, tetapi menjadi pasif ketika tidak ada program. Mereka dapat menjalankan tugas teknis, tetapi belum tentu memahami tujuan menjalankan kegiatan tersebut dan apa dampaknya terhadap organisasi maupun lingkungan sekitar.
Pada akhirnya, organisasi dapat mengalami apa yang dapat disebut sebagai “aktivisme tanpa arah”. Banyak kegiatan dilakukan, banyak kepanitiaan dibentuk, dan banyak program terlaksana, tetapi proses pembentukan karakter serta kesadaran kader tidak berkembang secara optimal.
Oleh karena itu, proses kaderisasi perlu dilakukan dengan pendekatan yang lebih bermakna. Pengenalan organisasi tidak cukup hanya melalui penyampaian materi formal mengenai sejarah, struktur, dan program kerja. Kader muda perlu diberikan kesempatan untuk berdiskusi, bertanya, mengkritisi, menyampaikan gagasan, dan memahami bagaimana nilai organisasi dapat diterapkan dalam kehidupan mahasiswa.
Kader muda perlu memahami bahwa menjadi bagian dari ormawa bukan hanya tentang menghadiri rapat, menjadi panitia, menjalankan program kerja, atau mendapatkan pengalaman untuk dicantumkan dalam portofolio. Lebih dari itu, organisasi seharusnya menjadi ruang bagi mahasiswa untuk membentuk karakter, meningkatkan kapasitas, belajar bertanggung jawab, dan berkontribusi terhadap lingkungan kampus maupun masyarakat.
Ketika Organisasi Tra Memberikan Ruang untuk Bertumbuh
Selain persoalan pemahaman terhadap arah organisasi, masalah regenerasi juga berkaitan erat dengan ketersediaan ruang bagi kader muda untuk berkembang.
Kader yang baru bergabung membutuhkan kesempatan untuk mencoba. Mereka membutuhkan ruang dan kemauan berinisiatif untuk menyampaikan pendapat, membuat keputusan, melakukan kesalahan, menerima evaluasi, dan belajar memperbaiki diri. Namun, dalam beberapa kondisi, ruang tersebut belum tersedia secara optimal dan kemampuan kader muda dalam melihat arah gerak ormawa yang masih terbatas.
Tidak jarang organisasi terlalu terpusat pada anggota yang sudah lama aktif atau mereka yang dianggap lebih berpengalaman. Pimpinan akhirnya menjadi pihak yang paling banyak mengambil keputusan, sedangkan kader muda lebih sering ditempatkan sebagai pelaksana teknis dikarenakan masih adanya sikap kurangnya berinisiatif dalam berbagai kesempatan yang diberikan oleh Pimpinan ormawa.
Kondisi tersebut sebenarnya dapat menjadi persoalan serius bagi tahapan proses regenerasi. Jika kader muda terus-menerus hanya menjadi pelaksana, mereka tidak akan memperoleh pengalaman yang cukup untuk mengambil tanggung jawab yang lebih besar. Mereka mungkin mahir menjalankan instruksi, tetapi belum tentu terbiasa membuat keputusan.
Regenerasi tidak akan berjalan apabila generasi baru hanya berminat mengikuti arahan Pimpinan tanpa adanya sikap mengambil berbagai peran yang diberikan dalam segala persoalan ormawa.
Setiap kader muda tentunya memiliki potensi yang berbeda. Ada yang memiliki kemampuan berbicara di depan umum, menulis, mengelola media sosial, membuat desain, melakukan riset, mengorganisasi kegiatan, membangun relasi, maupun mengembangkan program sosial. Pimpinan Organisasi dan kader muda seharusnya dua pihak ini mampu melihat keberagaman tersebut sebagai kekuatan bersama.
Ruang aktualisasi juga tidak harus selalu berupa jabatan struktural. Diskusi, pelatihan, kajian, proyek sosial, media organisasi, penelitian, pengabdian masyarakat, maupun kegiatan kolaboratif dapat menjadi ruang bagi kader untuk belajar.
Yang paling penting adalah memberikan kepercayaan. Kader muda perlu diberikan kesempatan dan berani pula mengambilnya untuk mengelola sebuah kegiatan atau proyek dari awal hingga akhir dengan tetap mendapatkan pendampingan. Dengan cara tersebut, mereka akan belajar mengenai perencanaan, komunikasi, penyelesaian masalah, kerja sama, hingga evaluasi.
Dengan demikian, kader tidak hanya merasa bahwa dirinya “dibutuhkan ketika ada kegiatan”, tetapi juga merasa bahwa organisasi benar-benar menjadi tempat untuk bertumbuh.
Krisis Regenerasi Bukan Hanya Masalah Kader Muda
Ketika terjadi penurunan keaktifan kader, sering kali kesalahan langsung diarahkan kepada generasi muda. Kader muda dianggap kurang memiliki komitmen, kurang aktif, terlalu sibuk dengan urusan akademik, atau tidak memiliki semangat berorganisasi seperti generasi sebelumnya.
Pandangan tersebut perlu dikaji kembali.
Setiap generasi tumbuh dalam kondisi yang berbeda. Mahasiswa saat ini menghadapi perkembangan teknologi dan media sosial, tuntutan akademik, persaingan dunia kerja, perubahan pola komunikasi, serta berbagai aktivitas lain yang tidak selalu dihadapi oleh generasi sebelumnya.
Oleh karena itu, pendekatan kaderisasi juga perlu beradaptasi. Bukan berarti nilai dan prinsip organisasi harus dihilangkan, tetapi cara menyampaikan dan mengimplementasikannya perlu disesuaikan dengan kondisi mahasiswa saat ini.
Jika organisasi masih menggunakan pola pendekatan yang sama tanpa mempertimbangkan perubahan karakter dan kebutuhan generasi saat ini, bukan tidak mungkin kader muda akan merasa bahwa organisasi tidak relevan dengan kehidupan mereka.
Karena itu, krisis regenerasi seharusnya menjadi ruang evaluasi bersama. Kader muda perlu melakukan introspeksi mengenai sejauh mana mereka mau belajar, berproses, dan mengambil tanggung jawab. Namun, Pimpinan juga perlu melakukan evaluasi mengenai sejauh mana pula telah memberikan pendampingan dan ruang bagi generasi berikutnya.
Regenerasi bukan sekadar proses menyerahkan jabatan dari satu periode kepada periode berikutnya. Regenerasi adalah proses mentransfer nilai, pengetahuan, pengalaman, serta tanggung jawab secara bertahap kepada generasi yang akan melanjutkan organisasi.
Membangun Kembali Ruang Kaderisasi yang Hidup
Menurut saya, terdapat beberapa hal yang dapat dilakukan untuk menghadapi persoalan tersebut.
Pertama, kaderisasi perlu ditempatkan sebagai bagian utama dari keberlangsungan organisasi. Kegiatan organisasi seharusnya tidak hanya berorientasi pada banyaknya program kerja atau keberhasilan sebuah acara. Pimpinan organisasi juga perlu mempertanyakan apa yang diperoleh kader setelah kegiatan tersebut selesai. Apakah mereka memperoleh pengalaman? Apakah mereka menjadi lebih mampu mengambil keputusan? Apakah mereka menjadi lebih memahami organisasi?
Kedua, perlu dibangun ruang diskusi yang terbuka dan rutin. Kader muda perlu memiliki tempat untuk menyampaikan gagasan, kegelisahan, bahkan kritik terhadap organisasi. Kritik tidak seharusnya langsung dipandang sebagai bentuk ketidakloyalan. Justru, organisasi yang sehat adalah organisasi yang mampu mengelola kritik sebagai bahan evaluasi dan perbaikan.
Ketiga, perlu adanya sistem pendampingan antara Pimpinan dan kader muda. Pimpinan tidak hanya berfungsi sebagai pengarah, tetapi juga sebagai mentor. Pengalaman Pimpinan merupakan aset yang sangat berharga. Namun, pengalaman tersebut seyogyanya ditransfer kepada generasi berikutnya, bukan hanya diwariskan dalam bentuk jabatan.
Keempat, organisasi perlu memperbanyak ruang aktualisasi berdasarkan minat dan kemampuan kader. Tidak semua kader harus berkembang melalui jalur yang sama. Ada kader yang memiliki potensi dalam bidang akademik, sosial, kepemimpinan, komunikasi, kreativitas, maupun teknologi. Organisasi perlu menyediakan ruang yang beragam agar setiap kader dapat menemukan potensinya.
Kelima, kader muda juga harus berani mengambil kesempatan. Ruang yang diberikan organisasi tidak akan berarti apabila tidak ada kemauan dari kader untuk mengisinya. Kader muda perlu berani bertanya, menyampaikan pendapat, mengambil tanggung jawab, menerima kritik, dan belajar dari kesalahan.
Jangan sampai kader muda menunggu ormawa menjadi sempurna terlebih dahulu untuk mulai berproses. Sebaliknya, kader muda juga dapat menjadi bagian dari proses memperbaiki organisasi.
Regenerasi Adalah Tanggung Jawab Bersama
Pada akhirnya, krisis regenerasi ormawa bukan hanya tentang semakin sedikitnya anggota atau semakin banyaknya kader yang tidak aktif. Akar persoalannya justru terletak pada kegagalan Pimpinan organisasi dalam membantu anggotanya menemukan alasan untuk bertahan sekaligus menyediakan ruang bagi mereka untuk tumbuh dan kader muda apabila belum berani mengambil berbagai kesempatan yang diberi.
Organisasi membutuhkan kader yang bukan hanya hadir, tetapi kader yang memiliki kesadaran bahwa dirinya merupakan bagian dari keberlanjutan organisasi. Untuk mencapai hal tersebut, Pimpinan organisasi harus membentuk ruang yang mampu menggabungkan pengalaman, intelektualitas, kepemimpinan, kreativitas, dan aktualisasi.
Kader muda tidak dapat terus disalahkan karena dianggap tidak memahami organisasi. Sebaliknya, kader muda juga tidak dapat hanya menunggu organisasi memberikan ruang tanpa berinisiatif untuk mengambil bagian. Keduanya memiliki tanggung jawab yang saling berkaitan.
Regenerasi yang sehat membutuhkan dua hal: kader yang mau bertumbuh dan Pimpinan organisasi yang menyediakan ruang untuk pertumbuhan tersebut. Jika salah satunya tidak berjalan, maka proses regenerasi akan tersendat.
Oleh karena itu, mungkin sudah saatnya ormawa tidak hanya bertanya, “Mengapa kader muda tidak aktif?”, tetapi juga bertanya, “Apa yang membuat kader muda ingin tetap bertumbuh di dalam organisasi?”
Pertanyaan tersebut penting karena keberlangsungan organisasi tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak anggota yang berhasil direkrut hari ini, tetapi juga oleh seberapa banyak anggota yang mampu menemukan makna, identitas, pengalaman, dan ruang untuk berkembang di dalam organisasi.
Regenerasi bukan sekadar pergantian generasi. Regenerasi adalah keberanian Pimpinan organisasi untuk memberikan kepercayaan kepada generasi berikutnya, sekaligus keberanian kader muda untuk mengambil tanggung jawab atas masa depan organisasinya. Ketika keduanya berjalan bersama, kaderisasi tidak lagi menjadi sekadar rutinitas tahunan, tetapi menjadi proses yang benar-benar melahirkan generasi penerus yang memiliki arah, kapasitas, dan kepedulian terhadap keberlanjutan organisasi.
Kiranya Ormawa dipandang kurang baik, janganlah hanya dicela. Dan kalau dipandang baik, janganlah hanya dipuji, tetapi bantulah dan suburkanlah…
“Mengapa Ruang Kontribusi Masih Berputar pada Kader yang Sama?”
Pertanyaan seperti ini cukup sering muncul dalam organisasi mahasiswa, terutama ketika sebuah program atau kegiatan kepanitiaannya melibatkan banyak kader, tetapi pada akhirnya hanya beberapa kader yang terlihat aktif dan memegang peran penting. Menurut saya, kondisi tersebut tidak selalu semata-mata disebabkan karena kader lain tidak mau berkontribusi. Bisa jadi, terdapat pola dalam organisasi yang secara tidak sadar membuat kesempatan lebih sering diberikan kepada kader yang telah dianggap mampu dan dapat diandalkan.
Biasanya, mereka adalah kader yang sudah memiliki pengalaman, mampu bekerja dengan cepat, memahami alur kepanitiaan, dan dinilai dapat membantu kegiatan berjalan dengan lancar. Dari sisi pelaksanaan program, pola seperti ini memang terasa lebih aman dan efisien. Namun, apabila pola tersebut berlangsung dalam jangka panjang tanpa diimbangi dengan pengembangan kader lain, organisasi berpotensi menghadapi persoalan lain yang lebih besar, yaitu semakin sedikitnya kader yang memiliki pengalaman dan kemampuan untuk menjalankan organisasi.
Menurut saya, organisasi mahasiswa tidak hanya berbicara tentang bagaimana sebuah kegiatan dapat terlaksana dengan baik. Ada proses belajar dan pengembangan anggota yang juga tidak kalah penting. Di dalam organisasi tentu ada kader yang masih belajar, masih mencari pengalaman, dan membutuhkan ruang untuk mencoba. Terputama bagi anggota yang baru bergabung, mereka tidak mungkin langsung memiliki kemampuan seperti kader yang sudah lama berkecimpung dalam kepanitiaan.
Lalu, jika kesempatan dalam setiap kegiatan lebih sering diberikan kepada kader yang sudah terbukti mampu, bagaimana kader yang belum berpengalaman dapat memperoleh ruang untuk belajar?
Seseorang yang hari ini dianggap sebagai kader yang dapat diandalkan tentu tidak muncul begitu saja. Ada proses di belakangnya. Bisa jadi, dahulu ia juga pernah diberikan kesempatan untuk mencoba, menerima tanggung jawab, melakukan kesalahan, mendapatkan evaluasi, lalu belajar dari pengalaman tersebut. Karena itu, menurut saya, salah satu cara untuk menciptakan lebih banyak kader yang dapat diandalkan adalah dengan mulai membagi kesempatan dalam kepanitiaan.
Hal ini bukan berarti kader yang sudah berpengalaman tidak perlu dilibatkan lagi. Justru pengalaman mereka tetap dibutuhkan. Namun, keterlibatan tersebut dapat diarahkan sebagai bentuk pendampingan, bukan selalu sebagai pihak yang mengerjakan atau memegang kendali utama. Misalnya, seseorang yang sebelumnya menjadi koordinator dapat memberikan kesempatan kepada kader lain untuk mencoba posisi tersebut pada kegiatan berikutnya, sementara ia tetap mendampingi dan memberikan arahan ketika diperlukan.
Dengan pola seperti itu, kader yang berpengalaman tetap memiliki peran penting dalam menjaga kualitas kegiatan, tetapi kader lain juga memperoleh ruang untuk berkembang. Organisasi tidak hanya menyelesaikan program, tetapi sekaligus menciptakan proses kaderisasi melalui pengalaman nyata.
Pemberian tanggung jawab pun tidak harus dilakukan secara langsung dalam skala besar. Bagi kader yang baru pertama kali terlibat dalam kepanitiaan, tugas sederhana dapat menjadi tahap awal untuk mengenal cara kerja organisasi. Setelah mulai memahami alur kerja, komunikasi, pembagian tugas, hingga penyelesaian masalah, barulah tanggung jawab dapat ditingkatkan secara bertahap.
Dengan demikian, proses belajar tidak terasa seperti “dilempar” langsung ke tanggung jawab besar, tetapi berlangsung secara bertahap dan terarah.
Hal tersebut juga sejalan dengan penelitian Torrico dkk. (2025) yang menunjukkan bahwa pengalaman belajar dalam kelompok, termasuk adanya pergantian peran kepemimpinan dan pemberian tugas yang semakin menantang, dapat membantu meningkatkan keyakinan mahasiswa terhadap kemampuan kepemimpinannya. Artinya, pengalaman langsung dalam menjalankan sebuah peran dapat menjadi bagian penting dari proses seseorang dalam membangun kemampuan kepemimpinannya.
Dalam proses tersebut, tentu tidak semua kegiatan akan berjalan sempurna. Kesalahan, kekurangan, ataupun hal-hal yang tidak sesuai dengan rencana merupakan sesuatu yang sangat mungkin terjadi. Menurut saya, hal tersebut tidak selalu harus dipandang sebagai kegagalan. Selama kesalahan tersebut dapat dievaluasi, diperbaiki, dan dijadikan pembelajaran, justru dari situlah kader mendapatkan pengalaman yang berharga.
Sebab, ketika keberhasilan kegiatan lebih banyak diukur dari kesempurnaan pelaksanaannya, organisasi cenderung memilih orang-orang yang telah terbukti mampu. Akibatnya, kader yang belum memiliki pengalaman akan terus berada di posisi yang sama. Mereka tidak mendapatkan kesempatan untuk mencoba karena dianggap belum mampu, sementara mereka tidak akan pernah menjadi mampu jika tidak pernah diberi kesempatan.
Di sinilah menurut saya pentingnya organisasi mahasiswa melihat keberhasilan dari dua sisi. Pertama, keberhasilan dalam merealisasikan program kerja. Kedua, keberhasilan dalam mengembangkan orang-orang yang ada di dalamnya.
Karena itu, ketika muncul pertanyaan, “Kok kader itu-itu lagi yang berkontribusi?”, jawabannya tidak cukup hanya dengan mengatakan bahwa kader lain kurang aktif atau kurang memiliki inisiatif. Kita juga perlu bertanya kembali: sudahkah organisasi memberikan ruang yang cukup bagi mereka untuk berkontribusi?
Sebab, kader yang belum terlihat aktif belum tentu tidak memiliki kemampuan. Bisa saja mereka belum mendapatkan kesempatan, belum memahami bagaimana cara berkontribusi, atau bahkan belum pernah diberikan kepercayaan untuk memegang tanggung jawab tertentu.
Memang, melibatkan orang-orang yang sudah berpengalaman akan membuat pekerjaan terasa lebih aman dan cepat selesai. Namun, jika pola tersebut terus dipertahankan, organisasi akan semakin bergantung kepada orang yang sama. Sebaliknya, ketika pimpinan mulai memberikan ruang, mendampingi proses belajar, serta membagi tanggung jawab secara bertahap, perlahan akan muncul lebih banyak kader yang memiliki kemampuan dan pengalaman.
Pada akhirnya, keberhasilan organisasi mahasiswa tidak hanya dapat dilihat dari seberapa sukses sebuah acara terlaksana. Lebih dari itu, keberhasilan juga dapat dilihat dari seberapa banyak orang yang tumbuh setelah melewati proses di dalamnya.
“Jangan sampai orientasi pada efektivitas pelaksanaan kegiatan membuat organisasi lebih sering mengandalkan kader yang sudah berpengalaman, sementara ruang bagi kader yang sedang belajar untuk berkembang menjadi semakin terbatas.”
Karena kader yang hari ini belum bisa diandalkan bukan berarti tidak mampu. Mungkin mereka hanya belum pernah diberi kesempatan untuk membuktikannya.
Jika hari ini organisasi berani memberikan ruang bagi kader untuk mencoba, belajar, dan berkembang, maka ke depannya organisasi tidak harus terus bergantung pada kader yang sama. Akan semakin banyak kader yang siap mengambil tanggung jawab, melanjutkan estafet kepemimpinan, dan membawa organisasi berkembang lebih jauh.
Setiap organisasi kampus selalu memiliki cerita yang hampir sama: ramai ketika anggota baru berdatangan, tetapi perlahan sepi ketika waktu mulai berjalan. Di awal, banyak mahasiswa datang dengan semangat, rasa penasaran, dan keinginan untuk mencoba sesuatu yang baru. Namun, tra semuanya memilih untuk bertahan. Ada yang akhirnya menemukan tempat untuk tumbuh, sementara sebagian lainnya hanya singgah sebentar lalu pergi. Dari sinilah muncul sebuah pertanyaan sederhana: apa yang membuat seseorang memilih untuk tinggal dan merasa bahwa organisasi tersebut adalah bagian dari dirinya? Dan apakah mempunyai rasa memiliki atau militansi dalam sebuah organisasi mahasiswa untuk turut bersama memberikan kontribusi penting?
Untuk memahami persoalan tersebut, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata militansi berarti ketangguhan dalam berjuang. Militansi dalam berorganisasi bukan berarti kita harus selalu demo atau teriak-teriak di jalanan. Militansi lebih berfokus pada perihal komitmen, loyalitas, dan kerja keras sebagai anggota untuk menjaga organisasi tetap hidup, bermanfaat, bermakna dan solid.
Namun, pemahaman tentang militansi tersebut sering kali berhadapan dengan realitas organisasi di lapangan. saat open recruitment anggota baru, antusiasmenya tinggi. Tapi beberapa bulan kemudian setelah berbagai program kegiatan sudah mulai berjalan, yang aktif dapat dihitung jari. Kenapa? Karena banyak yang pada awalnya hanya “ingin mencoba hal baru”, sekadar mengikuti teman. Datang karena penasaran saja, memang pada awalnya tampak terasa seru tapi setelah beberapa kali pertemuan seiring waktu menjadi tra menyenangkan terasa bosan mulai tumbuh, tapi ada juga yang pergi karena belum menemukan alasan kuat untuk bertahan. Fakta ini sering sekali terjadi karena kurangnya pemahaman terhadap visi organisasi, atau karena anggota tra merasa dilibatkan secara aktif dan partisipatif dalam pengambilan keputusan, acara organisasi, event, dan lain sebagainya. Akibatnya, organisasi menjadi seperti tempat persinggahan lalu lalang sejenak bagi anggota, bukan tempat bertumbuh.
Militansi itu dibangun, bukan tiba-tiba ada
Militansi tra akan muncul begitu saja. Ia ditempa lewat proses: diskusi, kerja bersama, bahkan tumbuh dari konflik kecil yang diselesaikan bersama. Dalam organisasi, militansi biasanya tumbuh dari pola komunikasi yang intens baik secara vertikal (pimpinan – kader baru), horizontal (antar anggota), maupun diagonal (antar bidang). Seperti contoh nyatanya pada saat ada acara besar, anggota yang militan seringkali berani menyempatkan banyak waktunya untuk bergadang bersama, berulang kali membagi tugas tanpa banyak protes, dan datang tepat waktu saat pelaksanaan. Mereka tra menunggu diarahkan, tapi bergerak karena merasa punya tanggung jawab.
Lebih jauh, proses pembentukan militansi tra berhenti pada kerja sama teknis semata, melainkan juga melibatkan penguatan identitas kolektif. Anggota yang militan pada dasarnya mempunyai rasa “memiliki” yang tinggi terhadap organisasi, sehingga setiap keputusan dan tindakan dipandu oleh kalimat : “Apakah ini menguntungkan organisasi?” Rasa memiliki muncul ketika anggota merasa didengar, dihargai, dan dilibatkan dalam pengambilan keputusan. Berbagai diskusi kecil, temu rapat evaluasi, hingga momen santai seperti makan bersama atau berkumpul usai kegiatan, semuanya menjadi ruang untuk memperkuat ikatan emosional antaranggota.
Rasa memiliki tersebut juga perlu diperkuat melalui keteladanan dalam organisasi. konsistensi antara nilai dan tindakan dalam organisasi merupakan salah satu faktor yang turut membentuk militansi kader. Pimpinan organisasi seyogyanya tra hanya menuntut loyalitas dari kader muda, tetapi juga mampu memberikan teladan melalui sikap dan tindakan nyata. Kader baru akan melihat bagaimana pimpinan datang lebih awal, bekerja dengan sungguh-sungguh, serta tetap rendah hati dalam menjalankan tanggung jawabnya. Keteladanan tersebut secara perlahan akan membentuk budaya organisasi yang sehat, yaitu budaya yang menumbuhkan rasa hormat terhadap dedikasi, bukan rasa takut terhadap pimpinan. Dengan demikian, militansi tra berhenti sebagai sebuah slogan, tetapi diwujudkan melalui penerapan nilai-nilai tanggung jawab, disiplin, dan solidaritas dalam kehidupan organisasi sehari-hari.
Pada praktiknya, militansi organisasi bukanlah sekadar kerja keras; itu merupakan proses yang panjang yang membutuhkan waktu, kesabaran, dan konsistensi dalam lingkungan yang mendukung perkembangan anggota organisasi. Jika konflik ini ditangani dengan baik, dapat menjadi kesempatan pimpinan untuk belajar berorganisasi dan mencari solusi bagaimana cara penyelesaiannya. Anggota militan acap kali dapat menghadapi konflik dengan sikap yang dewasa, tanpa menyalahkan atau mengungkit kesalahan anggota.
Dalam proses tersebut, peran pimpinan menjadi penting dalam memastikan proses berjalan secara berkelanjutan. Hal ini sangat penting dalam membangun militansi melalui sistem mentoring yang jelas, di mana tra hanya memberikan tugas tetapi juga meluangkan waktu untuk berbicara, berkumpul dalam temu luring atau daring perihal membantu kader muda dalam pengambilan keputusan, dan memberikan dukungan aktif.
Membuat program kerja yang efektif dan melibatkan kader muda lebih dari sekadar daftar kegiatan administrasi itu juga menunjukkan komitmen pimpinan yang membuat kader merasa bahwa kegiatan tersebut itu bermanfaat dan bermakna bagi mereka.
Di era digital saat ini melihat bahwasannya tekanan akademik yang tinggi, kita sebagai mahasiswa menjadi lebih sulit untuk tetap menumbuhkan militansi dalam berorganisasi. Salah satu faktornya dikarenakan banyak mahasiswa saat ini terfokus untuk mengejar IPK dan perjalanan karirnya. Padahal berorganisasi tentunya terdapat banyak keuntungan selain relasi. Mau bagaimanapun organisasi mahasiswa juga tetap harus relevan sebagai tempat untuk belajar, berkembang, dan berkontribusi aktif, jadi bukan hanya sekedar tempat untuk berkumpul ataupun bergerak tanpa arah yang jelas.
Pilih jadi tamu atau jadi bagian dari keluarga?
Pada akhirnya, organisasi mahasiswa seperti rumah kita sendiri. Dapat duduk sejenak untuk singgah, atau bisa juga tinggal dan ikut membangunnya menjadi lebih kokoh, karena tantangan besarnya bukan bagaimana mempertahankan apa yang telah ada, melainkan bagaimana memastikan nilai dan semangat gerakan tetap hidup pada periode mendatang melalui proses kaderisasi yang relevan, dialogis, intelektual dan berbasis pengalaman. Bukan dengan romantisme masa lalu kepemimpinan, bukan pula dengan doktrinasi yang kaku. Militansi adalah salah satu kunci untuk membuat organisasi yang bukan hanya sekadar tempat singgah sejenak, tapi tempat bersungguh sebagai ruang bertumbuh, berbagi, dan meninggalkan jejak. Karena kader muda tentulah perlu dibimbing agar memahami mengapa organisasi mahasiswa yang diikuti layak untuk diperjuangkan, lalu diberi ruang untuk menemukan bentuk perjuangan baru yang sesuai dengan relevansi saat ini.
Dengan demikian, persoalan utama organisasi bukan semata-mata tentang kuantitas kader muda, melainkan bagaimana membentuknya agar mempunyai arah gerak. Tentunya, organisasi mahasiswa tra kekurangan kader yang cerdas. Dengan menyikapi tantangan yang ada melalui memastikan kecerdasan itu mempunyai arah, kompetensi memiliki nilai dan keberanian punya keteguhan. Sebab pada akhirnya, periode yang akan datang tra hanya ditentukan oleh keunggulan kuantitas kader muda yang ada, tetapi juga seberapa kuat karakter perjuangan yang hidup dalam diri kader. (Keilla Alinzia Alfiona)
Organisasi sudah seyogyanya memiliki peran dalam membentuk karakter, kepemimpinan dan kepekaan sosial kepada anggotanya. Hal ini berkaitan adanya perubahan berbagai aspek yang serba cepat dan adanya tantangan digitalisasi, banyak organisasi terkhusus dalam ruang lingkup mahasiswa menghadapi tantangan internal, seperti kurangnya minat anggota, lemahnya manajemen penggerak organisasi, masing-masing penggerak punya arah geraknya sendiri dan tra jelas arah gerak kepemimpinan. Tentunya hal-hal tersebut dapat memberikan secercah alasan perlunya revitalisasi organisasi mahasiswa menjadi suatu hal yang krusial agar organisasi mahasiswa tetap relevan dan berdampak nyata.
Langkah awal dari revitalisasi adalah adanya penyusunan visi dan misi yang sesuai dengan kebutuhan zaman. Pengurus organisasi ditempa untuk senantiasa mampu menjawab berbagai isu aktual seperti keberlanjutan lingkungan, digitalisasi dan inklusi sosial. Dengan arah yang jelas organisasi mahasiswa diharapkan tra terjebak pada rutinitas program kerja yang monoton.
Langkah selanjutnya dilakukan upaya membangun sistem kerja yang lebih efisien perlu adanya melakukan penguatan struktur dan manajemen organisasi, melalui pembagian tugas yang jelas, pengarsipan program yang rapi, serta pemberian pelatihan dan pendampingan kader muda secara berjenjang. Hal ini berikatan erat dengan organisasi yang sehat tumbuh kembangnya dimulai dari manajemen internal yang terus dikuatkan dan dijaga dengan baik.
Bukan hanya berfokus pada kuantitas atau jumlah seberapa banyak kader muda yang ikut turut serta mendaftar karena rasa penasaran. Demi senantiasa menguatkan keberlangsungan kiprah organisasi tentunya kader muda perlu mendapat kesempatan meningkatkan kualitas dirinya. Mendapat kesempatan untuk diberdayakan lewat pelatihan soft skills, mentoring dan kegiatan yang memacu intelektualitas dan kreativitas. Regenerasi kader yang berkualitas adalah kunci keberlanjutan organisasi.
Dalam upaya mengikuti perkembangan zaman dan mampu beradaptasi dengan berbagai perubahan yang ada, organisasi mahasiswa perlu melakukan langkah pemanfaatan teknologi digital secara optimal. Hal ini dapat dimulai dari membuat publikasi program lewat media sosial, pengarsipan digital, hingga penggunaan aplikasi kolaborasi. Berbagai hal tersebut merupakan langkah usaha membuat organisasi lebih adaptif dan efisien dalam menyampaikan pesan serta menjangkau lebih banyak audiens.
Apakah penggerak organisasi harus bergerak sendiri untuk revitalisasi internal mereka? Tentu ini merupakan sebuah tanya yang sudah terjawab dalam setiap benak dengan kata penolakan. Karena revitalisasi tra bisa dilakukan sendiri. Dibutuhkan kolaborasi antarorganisasi, baik di dalam maupun luar kampus, serta kemitraan dengan lembaga eksternal. Dengan jejaring yang luas, pengurus internal organisasi bisa, berkembang dan memperluas dampak positif.
Bukan sekadar melaksanakan berbagai kegiatan tapi dapat melihat pada sisi dampak yang tercapai dari program yang telah dilaksanakan. Organisasi yang sukses bukan hanya aktif membuat berbagai acara, tetapi yang mempunyai dampak nyata. Sebagai contoh ikut serta dalam mengadvokasi isu mahasiswa atau menciptakan platform inovatf.
Dari banyak point tersebut, diharapkan mampu mewujudka berbagai macam usaha menghidupkan kembali semangat perubahan dan kepemimpinan yang sejati. Dengan berbagai langkah nyata yang diusahakan bersama, organisasi bisa menjadi wadah yang bukan hanya produktif, tetapi juga inspiratif dan relevan bagi mahasiswa saat ini atau setelahnya.