Ketika Anggota Hanya Singgah: Ke Mana Arah Militansi Organisasi?

Setiap organisasi kampus selalu memiliki cerita yang hampir sama: ramai ketika anggota baru berdatangan, tetapi perlahan sepi ketika waktu mulai berjalan. Di awal, banyak mahasiswa datang dengan semangat, rasa penasaran, dan keinginan untuk mencoba sesuatu yang baru. Namun, tra semuanya memilih untuk bertahan. Ada yang akhirnya menemukan tempat untuk tumbuh, sementara sebagian lainnya hanya singgah sebentar lalu pergi. Dari sinilah muncul sebuah pertanyaan sederhana: apa yang membuat seseorang memilih untuk tinggal dan merasa bahwa organisasi tersebut adalah bagian dari dirinya? Dan apakah mempunyai rasa memiliki atau militansi dalam sebuah organisasi mahasiswa untuk turut bersama memberikan kontribusi penting?

Untuk memahami persoalan tersebut, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata militansi berarti ketangguhan dalam berjuang. Militansi  dalam berorganisasi bukan berarti kita harus selalu demo atau teriak-teriak di jalanan. Militansi lebih berfokus pada perihal komitmen, loyalitas, dan kerja keras sebagai anggota untuk menjaga organisasi tetap hidup, bermanfaat, bermakna dan solid.

Namun, pemahaman tentang militansi tersebut sering kali berhadapan dengan realitas organisasi di lapangan. saat open recruitment anggota baru, antusiasmenya tinggi. Tapi beberapa bulan kemudian setelah berbagai program kegiatan sudah mulai berjalan, yang aktif dapat dihitung jari. Kenapa? Karena banyak yang pada awalnya hanya “ingin mencoba hal baru”, sekadar mengikuti teman. Datang karena penasaran saja, memang pada awalnya tampak terasa seru tapi setelah beberapa kali pertemuan seiring waktu menjadi tra menyenangkan terasa bosan mulai tumbuh, tapi ada juga yang pergi karena belum menemukan alasan kuat untuk bertahan. Fakta ini sering sekali terjadi karena kurangnya pemahaman terhadap visi organisasi, atau karena anggota tra merasa dilibatkan secara aktif dan partisipatif dalam pengambilan keputusan, acara organisasi, event, dan lain sebagainya. Akibatnya, organisasi menjadi seperti tempat persinggahan lalu lalang sejenak bagi anggota, bukan tempat bertumbuh.

Militansi itu dibangun, bukan tiba-tiba ada

Militansi tra akan muncul begitu saja. Ia ditempa lewat proses: diskusi, kerja bersama, bahkan tumbuh dari konflik kecil yang diselesaikan bersama. Dalam organisasi, militansi biasanya tumbuh dari pola komunikasi yang intens baik secara vertikal (pimpinan – kader baru), horizontal (antar anggota), maupun diagonal (antar bidang). Seperti contoh nyatanya pada saat ada acara besar, anggota yang militan seringkali berani menyempatkan banyak waktunya untuk bergadang bersama, berulang kali membagi tugas tanpa banyak protes, dan datang tepat waktu saat pelaksanaan. Mereka tra menunggu diarahkan, tapi bergerak karena merasa punya tanggung jawab.

Lebih jauh, proses pembentukan militansi tra berhenti pada kerja sama teknis semata, melainkan juga melibatkan penguatan identitas kolektif. Anggota yang militan pada dasarnya mempunyai rasa “memiliki” yang tinggi terhadap organisasi, sehingga setiap keputusan dan tindakan dipandu oleh kalimat : “Apakah ini menguntungkan organisasi?” Rasa memiliki  muncul ketika anggota merasa didengar, dihargai, dan dilibatkan dalam pengambilan keputusan. Berbagai diskusi kecil, temu rapat evaluasi, hingga momen santai seperti makan bersama atau berkumpul usai kegiatan, semuanya menjadi ruang untuk memperkuat ikatan emosional antaranggota.

Rasa memiliki tersebut juga perlu diperkuat melalui keteladanan dalam organisasi. konsistensi antara nilai dan tindakan dalam organisasi merupakan salah satu faktor yang turut membentuk militansi kader. Pimpinan organisasi seyogyanya tra hanya menuntut loyalitas dari kader muda, tetapi juga mampu memberikan teladan melalui sikap dan tindakan nyata. Kader baru akan melihat bagaimana pimpinan datang lebih awal, bekerja dengan sungguh-sungguh, serta tetap rendah hati dalam menjalankan tanggung jawabnya. Keteladanan tersebut secara perlahan akan membentuk budaya organisasi yang sehat, yaitu budaya yang menumbuhkan rasa hormat terhadap dedikasi, bukan rasa takut terhadap pimpinan. Dengan demikian, militansi tra berhenti sebagai sebuah slogan, tetapi diwujudkan melalui penerapan nilai-nilai tanggung jawab, disiplin, dan solidaritas dalam kehidupan organisasi sehari-hari.

Pada praktiknya, militansi organisasi bukanlah sekadar kerja keras; itu merupakan proses yang panjang yang membutuhkan waktu, kesabaran, dan konsistensi dalam lingkungan yang mendukung perkembangan anggota organisasi. Jika konflik ini ditangani dengan baik, dapat menjadi kesempatan pimpinan untuk belajar berorganisasi dan mencari solusi bagaimana cara penyelesaiannya. Anggota militan acap kali dapat menghadapi konflik dengan sikap yang dewasa, tanpa menyalahkan atau mengungkit kesalahan anggota.

Dalam proses tersebut, peran pimpinan menjadi penting dalam memastikan proses berjalan secara berkelanjutan. Hal ini sangat penting dalam membangun militansi melalui sistem mentoring yang jelas, di mana  tra hanya memberikan tugas tetapi juga meluangkan waktu untuk berbicara, berkumpul dalam temu luring atau daring perihal membantu kader muda dalam pengambilan keputusan, dan memberikan dukungan aktif.

Membuat program kerja yang efektif dan melibatkan kader muda lebih dari sekadar daftar kegiatan administrasi itu juga menunjukkan komitmen pimpinan yang membuat kader merasa bahwa kegiatan tersebut itu bermanfaat dan bermakna bagi mereka.

Di era digital saat ini melihat bahwasannya tekanan akademik yang tinggi, kita sebagai mahasiswa menjadi lebih sulit untuk tetap menumbuhkan militansi dalam berorganisasi. Salah satu faktornya dikarenakan banyak mahasiswa saat ini terfokus untuk mengejar IPK dan perjalanan karirnya. Padahal berorganisasi tentunya terdapat banyak keuntungan selain relasi. Mau bagaimanapun organisasi mahasiswa juga tetap harus relevan sebagai tempat  untuk belajar, berkembang, dan berkontribusi aktif, jadi bukan hanya sekedar tempat untuk berkumpul ataupun bergerak tanpa arah yang jelas.

Pilih jadi tamu atau jadi bagian dari keluarga?

Pada akhirnya, organisasi mahasiswa seperti rumah kita sendiri. Dapat duduk sejenak untuk singgah, atau bisa juga tinggal dan ikut membangunnya menjadi lebih kokoh, karena tantangan besarnya bukan bagaimana mempertahankan apa yang telah ada, melainkan bagaimana memastikan nilai dan semangat gerakan tetap hidup pada periode mendatang melalui proses kaderisasi yang relevan, dialogis, intelektual dan berbasis pengalaman. Bukan dengan romantisme masa lalu kepemimpinan, bukan pula dengan doktrinasi yang kaku. Militansi adalah salah satu kunci untuk membuat organisasi yang bukan hanya sekadar tempat singgah sejenak, tapi tempat bersungguh sebagai ruang bertumbuh, berbagi, dan meninggalkan jejak. Karena kader muda tentulah perlu dibimbing agar memahami mengapa organisasi mahasiswa yang diikuti layak untuk diperjuangkan, lalu diberi ruang untuk menemukan bentuk perjuangan baru yang sesuai dengan relevansi saat ini.

Dengan demikian, persoalan utama organisasi bukan semata-mata tentang kuantitas kader muda, melainkan bagaimana membentuknya agar mempunyai arah gerak. Tentunya, organisasi mahasiswa tra kekurangan kader yang cerdas. Dengan menyikapi tantangan yang ada melalui memastikan kecerdasan itu mempunyai arah, kompetensi memiliki nilai dan keberanian punya keteguhan. Sebab pada akhirnya, periode yang akan datang tra hanya ditentukan oleh keunggulan kuantitas kader muda yang ada, tetapi juga seberapa kuat karakter perjuangan yang hidup dalam diri kader. (Keilla Alinzia Alfiona)

Revitalisasi Organisasi Mahasiswa, Apakah Penting?

Organisasi sudah seyogyanya memiliki peran dalam membentuk karakter, kepemimpinan dan kepekaan sosial kepada anggotanya. Hal ini berkaitan adanya perubahan berbagai aspek yang serba cepat dan adanya tantangan digitalisasi, banyak organisasi terkhusus dalam ruang lingkup mahasiswa menghadapi tantangan internal, seperti kurangnya minat anggota, lemahnya manajemen penggerak organisasi, masing-masing penggerak punya arah geraknya sendiri dan tra jelas arah gerak kepemimpinan. Tentunya hal-hal tersebut dapat memberikan secercah alasan perlunya revitalisasi organisasi mahasiswa menjadi suatu hal yang krusial agar organisasi mahasiswa tetap relevan dan berdampak nyata.

Langkah awal dari revitalisasi adalah adanya penyusunan visi dan misi yang sesuai dengan kebutuhan zaman. Pengurus organisasi ditempa untuk senantiasa mampu menjawab berbagai isu aktual seperti keberlanjutan lingkungan, digitalisasi dan inklusi sosial. Dengan arah yang jelas organisasi mahasiswa diharapkan tra terjebak pada rutinitas program kerja yang monoton.

Langkah selanjutnya dilakukan upaya membangun sistem kerja yang lebih efisien perlu adanya melakukan penguatan struktur dan manajemen organisasi, melalui pembagian tugas yang jelas, pengarsipan program yang rapi, serta pemberian pelatihan dan pendampingan kader muda secara berjenjang. Hal ini berikatan erat dengan organisasi yang sehat tumbuh kembangnya dimulai dari manajemen internal yang terus dikuatkan dan dijaga dengan baik.

Bukan hanya berfokus pada kuantitas atau jumlah seberapa banyak kader muda yang ikut turut serta mendaftar karena rasa penasaran. Demi senantiasa menguatkan keberlangsungan kiprah organisasi tentunya kader muda perlu mendapat kesempatan meningkatkan kualitas dirinya. Mendapat kesempatan untuk diberdayakan lewat pelatihan soft skills, mentoring dan kegiatan yang memacu intelektualitas dan kreativitas. Regenerasi kader yang berkualitas adalah kunci keberlanjutan organisasi.

Dalam upaya mengikuti perkembangan zaman dan mampu beradaptasi dengan berbagai perubahan yang ada, organisasi mahasiswa perlu melakukan langkah pemanfaatan teknologi digital secara optimal. Hal ini dapat dimulai dari membuat publikasi program lewat media sosial, pengarsipan digital, hingga penggunaan aplikasi kolaborasi. Berbagai hal tersebut merupakan langkah usaha membuat organisasi lebih adaptif dan efisien dalam menyampaikan pesan serta menjangkau lebih banyak audiens.

Apakah penggerak organisasi harus bergerak sendiri untuk revitalisasi internal mereka? Tentu ini merupakan sebuah tanya yang sudah terjawab dalam setiap benak dengan kata penolakan. Karena revitalisasi tra bisa dilakukan sendiri. Dibutuhkan kolaborasi antarorganisasi, baik di dalam maupun luar kampus, serta kemitraan dengan lembaga eksternal. Dengan jejaring yang luas, pengurus internal organisasi bisa, berkembang dan memperluas dampak positif.

Bukan sekadar melaksanakan berbagai kegiatan tapi dapat melihat pada sisi dampak yang tercapai dari program yang telah dilaksanakan. Organisasi yang sukses bukan hanya aktif membuat berbagai acara, tetapi yang mempunyai dampak nyata. Sebagai contoh ikut serta dalam mengadvokasi isu mahasiswa atau menciptakan platform inovatf.

Dari banyak point tersebut, diharapkan mampu mewujudka berbagai macam usaha menghidupkan kembali semangat perubahan dan kepemimpinan yang sejati. Dengan berbagai langkah nyata yang diusahakan bersama, organisasi bisa menjadi wadah yang bukan hanya produktif, tetapi juga inspiratif dan relevan bagi mahasiswa saat ini atau setelahnya.

Peran Kader dan Mahasiswa dalam Menyeimbangkan IPK dan Tanggung Jawab Organisasi

Menjadi mahasiswa bukan hanya tentang belajar di kelas dan mengejar nilai, tetapi juga tentang belajar bertanggung jawab, bekerja sama, dan belajar cara menyelesaikan masalah. Namun, ketika tuntutan akademik bertemu dengan tanggung jawab organisasi, mahasiswa sering berada dalam posisi yang sulit. Karena diwaktu yang bersamaan sering terjadi pengurangan waktu entah untuk mengerjakan tugas kuliah ataupun mengerjakan tanggung jawab organisasi. Di posisi yang sulit itu tekanan pada tugas kuliah, tuntutan akademik dan tanggung jawab organisasi sangat berpengaruh pada kesehatan mahasiswa.

Menurut saya, persoalan ini bukan terletak pada pilihan antara mengejar nilai akademik atau organisasi, melainkan pada kemampuan menentukan prioritas dan mengelola waktu. Karena prioritas dan penentuan dalam mengelola waktu menjadi kunci akan kestabilan, mengejar nilai akademik dan IPK memang penting karena niat awal menjadi mahasiswa adalah untuk belajar dan menyelesaikan kuliah dengan nilai yang baik adalah impian semua mahasiswa. Namun, nilai yang baik bukan satu satunya ukuran keberhasilan seorang mahasiswa karena pengalaman organisasi pun memberikan pelajaran yang tidak di ajarkan di kelas seperti belajar komunikasi, menyelesaikan masalah, bertanggung jawab, mmengambil keputusan dan masih banyak lagi

Ketika seorang mahasiswa ada keinginan untuk berorganisasi berarti ada konsekuensi yang di ambil, ada Amanah yang harus di jalankan tidak di jadikan tekanan mental di organisasi maupun akademik tetapi menjadi seseorang yang bisa membagi waktu antara akademik dan organisasi tidak meninggalkan Amanah dan tidak mengorbankan akademik yang menjadi tujuan awal kuliah.

Saya menemukan penelitian pada 55 mahasiswa aktif dari berbagai fakultas di UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan yang dipilih menggunakan kombinasi teknik stratified random sampling dan convenience sampling didapatkan Hasil pada penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa (52,7%) berada pada kategori cukup sehat dan sebanyak 21,8% mahasiswa termasuk dalam kategori Tidak Sehat hingga Sangat Tidak Sehat dikarenakan beban dan tuntutan akademik, bisa kita lihat pada penelitian ini beban akademik saja sudah mengaruhi Kesehatan mental mahasiswa.

Apalagi bagi yang berorganisasi tekanan itu harus diatasi dengan kemampuan untuk menentukan skala prioritas. Tugas kuliah yang memiliki batas waktu dekat tentu harus mendapatkan perhatian. Begitu pula kegiatan organisasi yang memiliki tanggung jawab dan tenggat tertentu. Pengurus organisasi harus mampu membedakan antara sesuatu yang benar-benar penting dan sesuatu yang masih dapat ditunda atau di delegasikan.

Menurut saya komunikasi pun menjadi hal penting karena jika ada Amanah atau tugas yang tidak bisa di kerjakan sendiri seperti ujian yang besar bisa di komunikasikan dengan rekan satu tim untuk membantu, tetapi kebanyakan orang merasa terbatas itu seperti tidak bisa mengerjakan tanggung jawab padahal bukan seperti itu justru komunikasi yang terbuka dapat menjadi bentuk tanggung jawab karena memungkinkan organisasi mencari solusi bersama, seperti pembagian tugas.

Organisasi adalah wadah untuk betumbuh bukan untuk menekan diri karena jika memandang ber organisasi sebagai suatu hal yang sibuk, susah membagi waktu, akademik ketinggalan hanya akan berujung pada Kesehatan mental kita dan menjadikan wadah itu bukan untuk berkembang lagi maka dari itu ubah pandangan Ketika ber organisasi bagi waktu sebaik mungkin Kesehatan mental kita sangat penting untuk dijaga.

Pada akhirnya saya tidak setuju jika ada pilihan mau berfokus pada akademik atau menjadi aktivis organisasi karena hal ini dapat berjalan beriringan jika kita kelola dengan disiplin, komunikasi yang baik dan menentukan prioritas, karena selain di organisasi atau kmunitas dimana lagi kita akan mempelajari yang tidak di ajarkan di kelas. (Erik Sifa—Bidang RPK Razy Unimus)

Reference:

Amelia, D. V., Sabita, N. R., Pratiwi, R., & Nalim. (2026). ANALISIS DESKRIPTIF TINGKAT KESEHATAN MENTAL MAHASISWA DALAM MENGHADAPI TUNTUTAN AKADEMIK DI PERGURUAN TINGGI. Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, 1-14.

Sentyawati, R., Mutho`ani, A. A., & Afiffah, R. (2026). KOMPARASI KECEMASAN AKADEMIK ANTARA MAHASISWA ORGANISASI DAN NON – ORGANISASI . Jurnal Sains Student Research, 496-505.

An Al Rivaldi. (2024). Analisis Faktor Penyebab Stres pada Mahasiswa dan Dampaknya terhadap Kesehatan Mental. Detector: Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan, 12-18.

PK IMM AR Razy Unimus Gelar Pelatihan Darul Arqom Dasar (DAD) Bagi Kader Muda Demi Wujudkan Organisasi Menjadi Ruang Tumbuh yang Inklusif

Kedungmundu – Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PK IMM) Ar Razy Bidang Kader Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) menyelenggarakan Darul Arqom Dasar (DAD). Kegiatan dibuka di Gedung Nursing Research Center (NRC) Unimus dengan tema “Membangun Ruang Tumbuh Yang Inklusif Melalui Kebersamaan Dan Penguatan Ideologi Kader” pada (28/08).

Pada sesi pembukaaan kegiatan tamu undangan yang hadir Wakil Dekan I Fakultas Keperawatan dan Kesehatan (Fikkes) Unimus Dr. M. Fatkhul Mubin, M.Kep., sp.Kep.J, Ketua Umum PC IMM Kota Semarang, IMMawan Muhammad Haikal Nabil, S.Sos., Perwakilan Pengurus Koordinator Komisariat IMM Unimus, serta jajaran Instruktur IMM Kota Semarang yang bertugas mengawal proses perkaderan hingga usai.

Ketua Panitia Kegiatan DAD Ar Razy, IMMawati Talitha Indri Sonia, pada sesi pembukaan pelatihan menyampaikan ungkapan terimakasih kepada seluruh panitia yang telah memberikan kontribusi bersama untuk terselenggaranya kegiatan DAD.

“Saya ucapkan selamat dan semangat untuk 3 hari kedepan kepada kader muda Ar Razy selaku peserta pelatihan karena telah melalui beberapa tahap pra pelatihan dan telah mampu melewati sesi skrining oleh Instruktur dengan hasil yang baik,” pungkasnya.

Wakil Dekan I Fikkes Unimus Dr. M. Fatkhul Mubin, M.Kep., sp.Kep.J membuka DAD dengan pesan hangat. Dalam kesempatan ini, Beliau menyampaikan pentingnya alur proses tiap jenjang perkaderan dan harapan kepada kader muda IMM Ar Razy untuk tetap memegang teguh dakwah sebagai kader Persyarikatan.

Lebih lanjut, Fatkhul Mubin menyampaikan tentang bagaimana diaspora Muhammadiyah sebagai gerakan islam dalam berdakwah kepada masyarakat serta perlunya optimalisasi pemanfaatan teknologi untuk berdakwah sebagai bentuk syiar kebaikan.

Kegiatan ini bertujuan memperkuat kemampuan kader muda dalam melanjutkan estafet kepemimpinan komisariat melalui mengusahakan terwujudnya lingkungan bagi kader yang nyaman, terbuka dan saling mendukung, yang diharapkan tercapainya outcome Pimpinan yaitu, setiap kader memiliki kesempatan untuk belajar, berkembang dan bertumbuh bersama melalui ikatan kebersamaan yang menjalin kekuatan militansi dan solidaritas kader terhadap organisasi. Di lain sisi, kader muda Persyarikatan diarahkan untuk menguatankan ideologi gerakan sebagai landasan agar tidak cukup pada aktif saat berkegiatan, namun dapat memahami nilai, arah dan tujuan gerakan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah yang selaras dengan tema pelatihan.

“Proses kaderisasi di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah berjalan secara berjenjang mulai dari jenjang Dasar sampai Pelatihan tingkat paripurna, serta didukung oleh berbagai perkaderan pendukung lain,” ujar Ketua Umum Pimpinan Cabang IMM Kota Semarang, IMMawan Muhammad Haikal Nabil, S.Sos.

Selanjutnya ia juga menyebut bahwa peserta sebagai mahasiswa kesehatan tentu sudah seyogyanya keilmuannya dapat diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari dan berharap pasca mengikuti pelatihan DAD peserta lebih mengenal seluk-beluk Persyarikatan dan IMM serta mampu mengimplementasikan Trilogi dan Tri Dasar IMM dalam membawa amanah organisasi.

Rangkaian pelaksanaan program dilengkapi dengan peserta mendapatkan pendalaman materi komunikasi profetik sebagai pendukung yang bertujuan kader muda mampu membangun kekompakan di lingkungan organisasi kesehatan. (Bidang RPK Ar Razy)