
Ada masa ketika kita mengira bahwa menjadi dewasa adalah perkara menunggu waktu. Menurut Permenkes (2016), seseorang dikategorikan sebagai dewasa pada rentang 19 hingga 44 tahun. Ada batas usia yang ditetapkan, angka yang bisa dicatat, dan fase kehidupan yang bisa dikelompokkan. Namun, rupanya, waktu hanya membawa kita bertambah usia. Tidak selalu beserta keberanian untuk mengambil keputusan, tidak pula dengan petunjuk tentang jalan mana yang sebaiknya kita tempuh. Ada masa ketika kita mengira bahwa setelah cukup umur, kita akan tahu harus melangkah ke mana, pekerjaan apa yang ingin ditekuni, kehidupan seperti apa yang hendak dibangun, dan akan menjadi siapa kita beberapa tahun ke depan. Seolah-olah usia punya caranya sendiri untuk mendewasakan seseorang, lengkap dengan jawaban-jawaban yang selama ini hanya berenang di kepala.
Lalu, usia kita dua puluh, tanpa buku saku, tanpa pernah setuju. Usia yang konon katanya penuh kemungkinan, tetapi rasanya justru terasa penuh pertanyaan. Saat memutuskan memilih jurusan dalam kuliah, kita tidak lagi berpikir apakah kita akan kesuliatan atau tidak, sebab, selama ini sulit mana yang tidak disulap menjadi mudah. Kita justru bertanya apakah jurusan yang sedang kita tempuh benar-benar akan membawa kita ke kehidupan yang kita inginkan? Kemudian lahirlah rasa cemas yang hanya mampu dibalut dengan tanya. Apakah pekerjaan yang kelak kita dapatkan cukup untuk membiayai hidup, mimpi, dan sesekali keinginan sederhana untuk diri sendiri? Apakah kita sedang berjalan menuju sesuatu, atau hanya bergerak karena tidak tahu bagaimana caranya berhenti? Bahkan, sesekali, sembari menunggu lampu merah berganti menjadi kuning, kemudian hijau, kita mulai mempertanyakan pada diri, sebenarnya, apa yang sedang diusahakan selama dan sekeras ini?
Pertanyaan-pertanyaan itu lahir lalu kemudian dipelihara, bertambah dan bertumbuh, satu menjadi dua, dua menjadi empat, kemudian penuh, tanpa permisi menghuni kepala. Naif rasanya, ketika menyembunyikan ini. Kadang ketika melihat teman sebaya yang sudah lebih dulu mendapatkan pekerjaan, ketika membaca kabar seseorang baru saja menyelesaikan pendidikannya, atau ketika menyaksikan orang lain tampak begitu yakin dengan hidup yang sedang mereka jalani, kita ikut bahagia atas pencapaian mereka. Sungguh, hanya saja, setelah layar ponsel dimatikan, ada sesuatu yang tak ikut mati, memenuhi sebagian ruang di kepala. Sebuah perasaan kecil yang tidak mudah untuk dijelaskan, mungkin, yang mampu ditulis hanya, kita merasa tertinggal. Tertinggal dari sebuah perlombaan yang bahkan tak pernah kita ingat sejak kapan kita sedang berlomba?
Barangkali, beginilah salah satu cara usia dua puluhan mengajak kita belajar. Tak mesti dengan kegagalan yang besar, melainkan dengan ragu kecil yang diam-diam menjalar, dengan rasa takut yang beberapa kali dilawan masih tetap tinggal, dengan perasaan bahwa hidup orang lain tampak lebih terarah dari hidup kita. Bahwa rasanya, semua orang sampai pada garis akhir, sementara kita, barangkali gagal pun enggan bertemu, sebab kita berhenti karena bertemu takut, ragu dan bingung.
Lucunya adalah, kita hidup di antara banyak kemungkinan, tetapi justru kesulitan menentukkan pilihan. Ada banyak sekali hal yang ingin dicoba, ada banyak sekali tempat yang ingin dikunjungi, ada banyak versi diri yang juga ingin diwujudkan. Sayangnya, kita mulai memahami bahwa hidup tidak memberi kita kesempatan untuk mencoba segala sesuatu sekaligus. Bertahap, berproses, satu per satu. Ada pilihan yang harus diambil, sebagian lain mungkin terlewat, dan ada jalan yang mesti kita relakan meski kita belum benar-benar tahu apakah jalan lain akan membawa kita ke tempat yang lebih baik. Tidak ada yang bisa menjanjikan itu meski diupayakan, bukan? Barangkali, itu sebabnya tumbuh dewasa melelahkan sekali. Bukan hanya perihal tanggung jawab yang semakin besar, melainkan karena kita harus belajar hidup berdampingan dengan ketidakpastian, tanpa selalu memiliki seseorang yang bisa memastikan bahwa kita sedang melakukan hal yang benar.
Ada istilah yang akrab dan ramai di sekitar kita, quarter life crisis. Istilah dari perasaan kegelisahan yang kerap hadir pada masa transisi menuju kedewasaan. Sebuah fase ketika seseorang mulai mempertanyakan arah hidup, pencapaian, pekerjaan, hubungan, dan rupa-rupa fase dalam hidup, di antaranya, makna keberadaan diri. Namun, di balik istilah yang terdengar begitu akrab itu, ada pengalaman-pengalaman yang sangat personal. Sebab, kebingungan setiap orang memiliki bentuknya masing-masing. Tidak semua kecemasan dapat diselesaikan dengan kalimat, setiap orang punya waktunya masing-masing.
Kita hidup di dunia yang menuntut banyak hal, menuntut menyelesaikan banyak perkara, sementara mengenal diri sendiri pun tak khatam-khatam. Kita butuh uang untuk bertahan, Pendidikan untuk membuka kesempatan, pekerjaan untuk membangun kehidupan, dan keberanian untuk mengambil risiko. Catatan penting, bahwa kita tak harus menyelesaikannya sekaligus. Barangkali perlu diingatkan, bedakan antara berusaha memperbaiki hidup dan menghukum diri sendiri karena hidup belum menjadi seperti yang diharapkan, meski tak pernah absen didoakan, tak pernah terlewat diupayakan. Keduanya serupa, kita mengira sedang memotivasi diri untuk tumbuh, padahal diam-diam sedang memperlakukan diri seolah-olah sesuatu yang telah dilakukan belum pernah cukup. Sesekali, kita perlu paham bahwa, cukup lebih baik dari kurang atau lebih.
Kita bukan proyek yang harus selalu diperbaiki. Ada hari-hari ketika kita bertumbuh berarti berani melangkah lebih jauh. Namun, ada pula hari-hari ketika bertumbuh artinya berhenti membandingkan. Kita tidak harus mempertahankan semua cita-cita masa kecil hanya karena pernah begitu yakin, kita tidak harus menjalani hidup sesuai rencana yang dibuat ketika kita belum mengerti, mempelajari lebih jauh bagaimana kehidupan ini bekerja. Barangkali, bertambahnya usia, beberapa mimpi perlu diperbarui, beberapa keinginan perlu dilepaskan, dan beberapa jalan perlu diulang.
Bukankah mengenal diri sendiri juga berarti bersedia menerima bahwa kita bisa saja keliru?
Usia dua puluhan bukan masa ketika pada akhirnya semua tanya bertemu jawab, semua ragu bertemu yakin, dan semua salah mendadak menjadi benar. Justru, dua puluhan menjadi masa kita mulai memahami bahwa ada keputusan yang baru akan terasa tepat setelah kita mengalaminya, ada keberanian yang baru tumbuh setelah kita menghadapi ketakutan, dan ada pemahaman yang hanya bisa datang setelah kita melewati hal-hal yang sebelumnya kita hindari sebab, di mana membeli sebuah keberanian?
Kita boleh bingung. Kita boleh mengubah rute kehidupan. Kita boleh merasa takut melihat masa depan yang samar-samar. Dengan catatan tidak menjadikan bingung sebagai alasan untuk berhenti mengenali kemungkinan-kemungkinan yang masih tersedia, barangkali kita masih sedang menuju sesuatu yang belum tahu persis apa namanya. Tak ada yang menyalahkan ketika memilih berlari kencang, pun tak ada yang menghukum ketika memilih duduk sejenak, memeriksa kembali apa yang sebenarnya menjadi tuju, memastikan bahwa kita tak menghabiskan seluruh tenaga untuk hal yang tak sungguh-sungguh kita pilih.
Jadi, jika hari ini kita masih berusia dua puluhan dan belum tahu hendak menjadi siapa, mungkin baiknya tak buru-buru menamai diri sendiri gagal. Kita tidak harus memiliki seluruh jawaban hari ini. Barangkali, yang paling kita butuhkan pada usia ini bukanlah kepastian tentang seluruh masa depan, melainkan keberanian untuk menjalani hari ini tanpa terus menerus menganggapnya sebagai bukti, bahwa kita belum menjadi apa-apa. Kelak, kita akan menoleh ke belakang dan memahami bahwa masa-masa penuh kebingungan ini bukan ruang kosong dalam perjalanan hidup. Untuk sekarang, biarlah beberapa hal belum selesai. Biarlah pertanyaan itu berenang di kepala, sembari menyusun mimpi.
Kita memang sedang bertumbuh, dan barangkali pertumbuhan tidak selalu terasa seperti sedang menuju ke depan. Kadang ia terasa seperti kehilangan arah, seperti mengulang langkah, seperti harus berkenalan kembali dengan diri dan gagal. Tidak apa-apa, kita tidak dilahirkan dengan kewajiban untuk mengetahui segala sesuatu sejak awal. Kita hanya perlu terus belajar menjalani hidup dengan lebih sadar, mengambil keputusan dengan lebih berani, dan memberi diri sendiri kesempatan untuk menjadi manusia yang utuh, bahkan ketika belum menjadi manusia yang dicita-citakan. Tidak apa-apa, kita akan sampai di kehidupan yang sering kita bicarakan pada pencipta.









