Reaktualisasi Fungsi Ormawa di Tengah Perkuliahan yang Modern

Organisasi mahasiswa (ormawa) merupakan bagian penting dalam kehidupan kampus karena menjadi ruang bagi mahasiswa untuk belajar bekerja sama, menyampaikan aspirasi, mengembangkan kemampuan, dan membangun tanggung jawab. Namun, di tengah perkuliahan yang semakin modern, muncul kebimbangan di kalangan mahasiswa: apakah ada manfaat nyata ketika berorganisasi? Pertanyaan tersebut wajar karena mahasiswa harus membagi waktu dengan kuliah, tugas, praktikum, pekerjaan, maupun aktivitas pribadi. Bagi sebagian mahasiswa, ormawa bahkan dipandang tidak lebih dari sekadar beban tambahan yang menyita waktu. Karena itu, reaktualisasi fungsi ormawa diperlukan agar keberadaannya kembali dirasakan manfaatnya dan tidak menjadi peninggalan masa lalu yang kehilangan relevansi.

Menurut saya, persoalan utama bukan terletak pada ada atau tidaknya manfaat organisasi, tetapi pada seberapa jauh mahasiswa dapat merasakan manfaat tersebut dalam kehidupan perkuliahan. Jika kegiatan ormawa hanya berisi rapat, kepanitiaan, atau kegiatan rutin yang tidak berkaitan dengan kebutuhan mahasiswa, wajar apabila muncul anggapan bahwa organisasi hanya menambah kesibukan. Ormawa perlu menunjukkan manfaat yang lebih konkret, misalnya menjadi tempat mahasiswa belajar mengatur waktu, berkomunikasi, bekerja dalam tim, menyelesaikan konflik, mengambil keputusan, dan menyampaikan persoalan akademik maupun fasilitas kampus. Dengan demikian, pengalaman berorganisasi tidak berhenti pada sertifikat atau pengalaman kepanitiaan, tetapi benar-benar menjadi bekal yang dapat digunakan bagi proses bertumbuhnya pribadi mahasiswa.

Di sisi lain, perkuliahan modern menuntut Pimpinan ormawa untuk menyesuaikan cara kerjanya. Perkembangan teknologi dapat dimanfaatkan untuk membuat keterlibatan mahasiswa lebih fleksibel, seperti penyampaian informasi melalui media sosial, rapat tertentu secara daring, dan penyaluran aspirasi melalui formulir digital. Cara tersebut penting bagi mahasiswa yang memiliki jadwal kuliah dan tugas yang padat. Ormawa juga dapat menghadirkan diskusi singkat, kegiatan pengembangan keterampilan, atau forum yang membahas persoalan nyata mahasiswa sehingga kegiatan ormawa tidak terasa jauh dari kehidupan akademik sehari-hari.

Pada akhirnya, pertanyaan “apakah ada manfaat ketika berorganisasi?” seharusnya dijawab melalui pengalaman yang benar-benar dirasakan mahasiswa. Pimpinan Ormawa perlu mendengarkan kebutuhan anggotanya, mengurangi kegiatan yang sekadar bersifat rutinitas, dan memperbanyak kegiatan yang memiliki tujuan serta hasil yang jelas. Mahasiswa pun perlu melihat organisasi bukan hanya sebagai tambahan kesibukan, melainkan sebagai salah satu ruang untuk memperoleh pengalaman yang tidak selalu didapatkan di dalam kelas. Dengan reaktualisasi tersebut, ormawa dapat tetap relevan di tengah perkuliahan modern, bukan karena mempertahankan cara lama, tetapi karena mampu memberikan manfaat yang nyata bagi mahasiswa.

PANITIANYA 33 KADER,

YANG BERKONTRIBUSI KOK ITU-ITU SAJA?

“Mengapa Ruang Kontribusi Masih Berputar pada Kader yang Sama?”

Pertanyaan seperti ini cukup sering muncul dalam organisasi mahasiswa, terutama ketika sebuah program atau kegiatan kepanitiaannya melibatkan banyak kader, tetapi pada akhirnya hanya beberapa kader yang terlihat aktif dan memegang peran penting. Menurut saya, kondisi tersebut tidak selalu semata-mata disebabkan karena kader lain tidak mau berkontribusi. Bisa jadi, terdapat pola dalam organisasi yang secara tidak sadar membuat kesempatan lebih sering diberikan kepada kader yang telah dianggap  mampu dan dapat diandalkan.

Biasanya, mereka adalah kader yang sudah memiliki pengalaman, mampu bekerja dengan cepat, memahami alur kepanitiaan, dan dinilai dapat membantu kegiatan berjalan dengan lancar. Dari sisi pelaksanaan program, pola seperti ini memang terasa lebih aman dan efisien. Namun, apabila pola tersebut berlangsung dalam jangka panjang tanpa diimbangi dengan pengembangan kader lain, organisasi berpotensi menghadapi persoalan lain yang lebih besar, yaitu semakin sedikitnya kader yang memiliki pengalaman dan kemampuan untuk menjalankan organisasi.

Menurut saya, organisasi mahasiswa tidak hanya berbicara tentang bagaimana sebuah kegiatan dapat terlaksana dengan baik. Ada proses belajar dan pengembangan anggota yang juga tidak kalah penting. Di dalam organisasi tentu ada kader yang masih belajar, masih mencari pengalaman, dan membutuhkan ruang untuk mencoba. Terputama bagi anggota yang baru bergabung, mereka tidak mungkin langsung memiliki kemampuan seperti kader yang sudah lama berkecimpung dalam kepanitiaan.

Lalu, jika kesempatan dalam setiap kegiatan lebih sering diberikan kepada kader yang sudah terbukti mampu, bagaimana kader yang belum berpengalaman dapat memperoleh ruang untuk belajar?

Seseorang yang hari ini dianggap sebagai kader yang dapat diandalkan tentu tidak muncul begitu saja. Ada proses di belakangnya. Bisa jadi, dahulu ia juga pernah diberikan kesempatan untuk mencoba, menerima tanggung jawab, melakukan kesalahan, mendapatkan evaluasi, lalu belajar dari pengalaman tersebut. Karena itu, menurut saya, salah satu cara untuk menciptakan lebih banyak kader yang dapat diandalkan adalah dengan mulai membagi kesempatan dalam kepanitiaan.

Hal ini bukan berarti kader yang sudah berpengalaman tidak perlu dilibatkan lagi. Justru pengalaman mereka tetap dibutuhkan. Namun, keterlibatan tersebut dapat diarahkan sebagai bentuk pendampingan, bukan selalu sebagai pihak yang mengerjakan atau memegang kendali utama. Misalnya, seseorang yang sebelumnya menjadi koordinator dapat memberikan kesempatan kepada kader lain untuk mencoba posisi tersebut pada kegiatan berikutnya, sementara ia tetap mendampingi dan memberikan arahan ketika diperlukan.

Dengan pola seperti itu, kader yang berpengalaman tetap memiliki peran penting dalam menjaga kualitas kegiatan, tetapi kader lain juga memperoleh ruang untuk berkembang. Organisasi tidak hanya menyelesaikan program, tetapi sekaligus menciptakan proses kaderisasi melalui pengalaman nyata.

Pemberian tanggung jawab pun tidak harus dilakukan secara langsung dalam skala besar. Bagi kader yang baru pertama kali terlibat dalam kepanitiaan, tugas sederhana dapat menjadi tahap awal untuk mengenal cara kerja organisasi. Setelah mulai memahami alur kerja, komunikasi, pembagian tugas, hingga penyelesaian masalah, barulah tanggung jawab dapat ditingkatkan secara bertahap.

Dengan demikian, proses belajar tidak terasa seperti “dilempar” langsung ke tanggung jawab besar, tetapi berlangsung secara bertahap dan terarah.

Hal tersebut juga sejalan dengan penelitian Torrico dkk. (2025) yang menunjukkan bahwa pengalaman belajar dalam kelompok, termasuk adanya pergantian peran kepemimpinan dan pemberian tugas yang semakin menantang, dapat membantu meningkatkan keyakinan mahasiswa terhadap kemampuan kepemimpinannya. Artinya, pengalaman langsung dalam menjalankan sebuah peran dapat menjadi bagian penting dari proses seseorang dalam membangun kemampuan kepemimpinannya.

Dalam proses tersebut, tentu tidak semua kegiatan akan berjalan sempurna. Kesalahan, kekurangan, ataupun hal-hal yang tidak sesuai dengan rencana merupakan sesuatu yang sangat mungkin terjadi. Menurut saya, hal tersebut tidak selalu harus dipandang sebagai kegagalan. Selama kesalahan tersebut dapat dievaluasi, diperbaiki, dan dijadikan pembelajaran, justru dari situlah kader mendapatkan pengalaman yang berharga.

Sebab, ketika keberhasilan kegiatan lebih banyak diukur dari kesempurnaan pelaksanaannya, organisasi cenderung memilih orang-orang yang telah terbukti mampu.  Akibatnya, kader yang belum memiliki pengalaman akan terus berada di posisi yang sama. Mereka tidak mendapatkan kesempatan untuk mencoba karena dianggap belum mampu, sementara mereka tidak akan pernah menjadi mampu jika tidak pernah diberi kesempatan.

Di sinilah menurut saya pentingnya organisasi mahasiswa melihat keberhasilan dari dua sisi. Pertama, keberhasilan dalam merealisasikan program kerja. Kedua, keberhasilan dalam mengembangkan orang-orang yang ada di dalamnya.

Karena itu, ketika muncul pertanyaan, “Kok kader itu-itu lagi yang berkontribusi?”, jawabannya tidak cukup hanya dengan mengatakan bahwa kader lain kurang aktif atau kurang memiliki inisiatif. Kita juga perlu bertanya kembali: sudahkah organisasi memberikan ruang yang cukup bagi mereka untuk berkontribusi?

Sebab, kader yang belum terlihat aktif belum tentu tidak memiliki kemampuan. Bisa saja mereka belum mendapatkan kesempatan, belum memahami bagaimana cara berkontribusi, atau bahkan belum pernah diberikan kepercayaan untuk memegang tanggung jawab tertentu.

Memang, melibatkan orang-orang yang sudah berpengalaman akan membuat pekerjaan terasa lebih aman dan cepat selesai. Namun, jika pola tersebut terus dipertahankan, organisasi akan semakin bergantung kepada orang yang sama. Sebaliknya, ketika pimpinan mulai memberikan ruang, mendampingi proses belajar, serta membagi tanggung jawab secara bertahap, perlahan akan muncul lebih banyak kader yang memiliki kemampuan dan pengalaman.

Pada akhirnya, keberhasilan organisasi mahasiswa tidak hanya dapat dilihat dari seberapa sukses sebuah acara terlaksana. Lebih dari itu, keberhasilan juga dapat dilihat dari seberapa banyak orang yang tumbuh setelah melewati proses di dalamnya.

“Jangan sampai orientasi pada efektivitas pelaksanaan kegiatan membuat organisasi lebih sering mengandalkan kader yang sudah berpengalaman, sementara ruang bagi kader yang sedang belajar untuk berkembang menjadi semakin terbatas.”

Karena kader yang hari ini belum bisa diandalkan bukan berarti tidak mampu. Mungkin mereka hanya belum pernah diberi kesempatan untuk membuktikannya.

Jika hari ini organisasi berani memberikan ruang bagi kader untuk mencoba, belajar, dan berkembang, maka ke depannya organisasi tidak harus terus bergantung pada kader yang sama. Akan semakin banyak kader yang siap mengambil tanggung jawab, melanjutkan estafet kepemimpinan, dan membawa organisasi berkembang lebih jauh.

Ketika Anggota Hanya Singgah: Ke Mana Arah Militansi Organisasi?

Setiap organisasi kampus selalu memiliki cerita yang hampir sama: ramai ketika anggota baru berdatangan, tetapi perlahan sepi ketika waktu mulai berjalan. Di awal, banyak mahasiswa datang dengan semangat, rasa penasaran, dan keinginan untuk mencoba sesuatu yang baru. Namun, tra semuanya memilih untuk bertahan. Ada yang akhirnya menemukan tempat untuk tumbuh, sementara sebagian lainnya hanya singgah sebentar lalu pergi. Dari sinilah muncul sebuah pertanyaan sederhana: apa yang membuat seseorang memilih untuk tinggal dan merasa bahwa organisasi tersebut adalah bagian dari dirinya? Dan apakah mempunyai rasa memiliki atau militansi dalam sebuah organisasi mahasiswa untuk turut bersama memberikan kontribusi penting?

Untuk memahami persoalan tersebut, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata militansi berarti ketangguhan dalam berjuang. Militansi  dalam berorganisasi bukan berarti kita harus selalu demo atau teriak-teriak di jalanan. Militansi lebih berfokus pada perihal komitmen, loyalitas, dan kerja keras sebagai anggota untuk menjaga organisasi tetap hidup, bermanfaat, bermakna dan solid.

Namun, pemahaman tentang militansi tersebut sering kali berhadapan dengan realitas organisasi di lapangan. saat open recruitment anggota baru, antusiasmenya tinggi. Tapi beberapa bulan kemudian setelah berbagai program kegiatan sudah mulai berjalan, yang aktif dapat dihitung jari. Kenapa? Karena banyak yang pada awalnya hanya “ingin mencoba hal baru”, sekadar mengikuti teman. Datang karena penasaran saja, memang pada awalnya tampak terasa seru tapi setelah beberapa kali pertemuan seiring waktu menjadi tra menyenangkan terasa bosan mulai tumbuh, tapi ada juga yang pergi karena belum menemukan alasan kuat untuk bertahan. Fakta ini sering sekali terjadi karena kurangnya pemahaman terhadap visi organisasi, atau karena anggota tra merasa dilibatkan secara aktif dan partisipatif dalam pengambilan keputusan, acara organisasi, event, dan lain sebagainya. Akibatnya, organisasi menjadi seperti tempat persinggahan lalu lalang sejenak bagi anggota, bukan tempat bertumbuh.

Militansi itu dibangun, bukan tiba-tiba ada

Militansi tra akan muncul begitu saja. Ia ditempa lewat proses: diskusi, kerja bersama, bahkan tumbuh dari konflik kecil yang diselesaikan bersama. Dalam organisasi, militansi biasanya tumbuh dari pola komunikasi yang intens baik secara vertikal (pimpinan – kader baru), horizontal (antar anggota), maupun diagonal (antar bidang). Seperti contoh nyatanya pada saat ada acara besar, anggota yang militan seringkali berani menyempatkan banyak waktunya untuk bergadang bersama, berulang kali membagi tugas tanpa banyak protes, dan datang tepat waktu saat pelaksanaan. Mereka tra menunggu diarahkan, tapi bergerak karena merasa punya tanggung jawab.

Lebih jauh, proses pembentukan militansi tra berhenti pada kerja sama teknis semata, melainkan juga melibatkan penguatan identitas kolektif. Anggota yang militan pada dasarnya mempunyai rasa “memiliki” yang tinggi terhadap organisasi, sehingga setiap keputusan dan tindakan dipandu oleh kalimat : “Apakah ini menguntungkan organisasi?” Rasa memiliki  muncul ketika anggota merasa didengar, dihargai, dan dilibatkan dalam pengambilan keputusan. Berbagai diskusi kecil, temu rapat evaluasi, hingga momen santai seperti makan bersama atau berkumpul usai kegiatan, semuanya menjadi ruang untuk memperkuat ikatan emosional antaranggota.

Rasa memiliki tersebut juga perlu diperkuat melalui keteladanan dalam organisasi. konsistensi antara nilai dan tindakan dalam organisasi merupakan salah satu faktor yang turut membentuk militansi kader. Pimpinan organisasi seyogyanya tra hanya menuntut loyalitas dari kader muda, tetapi juga mampu memberikan teladan melalui sikap dan tindakan nyata. Kader baru akan melihat bagaimana pimpinan datang lebih awal, bekerja dengan sungguh-sungguh, serta tetap rendah hati dalam menjalankan tanggung jawabnya. Keteladanan tersebut secara perlahan akan membentuk budaya organisasi yang sehat, yaitu budaya yang menumbuhkan rasa hormat terhadap dedikasi, bukan rasa takut terhadap pimpinan. Dengan demikian, militansi tra berhenti sebagai sebuah slogan, tetapi diwujudkan melalui penerapan nilai-nilai tanggung jawab, disiplin, dan solidaritas dalam kehidupan organisasi sehari-hari.

Pada praktiknya, militansi organisasi bukanlah sekadar kerja keras; itu merupakan proses yang panjang yang membutuhkan waktu, kesabaran, dan konsistensi dalam lingkungan yang mendukung perkembangan anggota organisasi. Jika konflik ini ditangani dengan baik, dapat menjadi kesempatan pimpinan untuk belajar berorganisasi dan mencari solusi bagaimana cara penyelesaiannya. Anggota militan acap kali dapat menghadapi konflik dengan sikap yang dewasa, tanpa menyalahkan atau mengungkit kesalahan anggota.

Dalam proses tersebut, peran pimpinan menjadi penting dalam memastikan proses berjalan secara berkelanjutan. Hal ini sangat penting dalam membangun militansi melalui sistem mentoring yang jelas, di mana  tra hanya memberikan tugas tetapi juga meluangkan waktu untuk berbicara, berkumpul dalam temu luring atau daring perihal membantu kader muda dalam pengambilan keputusan, dan memberikan dukungan aktif.

Membuat program kerja yang efektif dan melibatkan kader muda lebih dari sekadar daftar kegiatan administrasi itu juga menunjukkan komitmen pimpinan yang membuat kader merasa bahwa kegiatan tersebut itu bermanfaat dan bermakna bagi mereka.

Di era digital saat ini melihat bahwasannya tekanan akademik yang tinggi, kita sebagai mahasiswa menjadi lebih sulit untuk tetap menumbuhkan militansi dalam berorganisasi. Salah satu faktornya dikarenakan banyak mahasiswa saat ini terfokus untuk mengejar IPK dan perjalanan karirnya. Padahal berorganisasi tentunya terdapat banyak keuntungan selain relasi. Mau bagaimanapun organisasi mahasiswa juga tetap harus relevan sebagai tempat  untuk belajar, berkembang, dan berkontribusi aktif, jadi bukan hanya sekedar tempat untuk berkumpul ataupun bergerak tanpa arah yang jelas.

Pilih jadi tamu atau jadi bagian dari keluarga?

Pada akhirnya, organisasi mahasiswa seperti rumah kita sendiri. Dapat duduk sejenak untuk singgah, atau bisa juga tinggal dan ikut membangunnya menjadi lebih kokoh, karena tantangan besarnya bukan bagaimana mempertahankan apa yang telah ada, melainkan bagaimana memastikan nilai dan semangat gerakan tetap hidup pada periode mendatang melalui proses kaderisasi yang relevan, dialogis, intelektual dan berbasis pengalaman. Bukan dengan romantisme masa lalu kepemimpinan, bukan pula dengan doktrinasi yang kaku. Militansi adalah salah satu kunci untuk membuat organisasi yang bukan hanya sekadar tempat singgah sejenak, tapi tempat bersungguh sebagai ruang bertumbuh, berbagi, dan meninggalkan jejak. Karena kader muda tentulah perlu dibimbing agar memahami mengapa organisasi mahasiswa yang diikuti layak untuk diperjuangkan, lalu diberi ruang untuk menemukan bentuk perjuangan baru yang sesuai dengan relevansi saat ini.

Dengan demikian, persoalan utama organisasi bukan semata-mata tentang kuantitas kader muda, melainkan bagaimana membentuknya agar mempunyai arah gerak. Tentunya, organisasi mahasiswa tra kekurangan kader yang cerdas. Dengan menyikapi tantangan yang ada melalui memastikan kecerdasan itu mempunyai arah, kompetensi memiliki nilai dan keberanian punya keteguhan. Sebab pada akhirnya, periode yang akan datang tra hanya ditentukan oleh keunggulan kuantitas kader muda yang ada, tetapi juga seberapa kuat karakter perjuangan yang hidup dalam diri kader. (Keilla Alinzia Alfiona)