PANITIANYA 33 KADER,

YANG BERKONTRIBUSI KOK ITU-ITU SAJA?

“Mengapa Ruang Kontribusi Masih Berputar pada Kader yang Sama?”

Pertanyaan seperti ini cukup sering muncul dalam organisasi mahasiswa, terutama ketika sebuah program atau kegiatan kepanitiaannya melibatkan banyak kader, tetapi pada akhirnya hanya beberapa kader yang terlihat aktif dan memegang peran penting. Menurut saya, kondisi tersebut tidak selalu semata-mata disebabkan karena kader lain tidak mau berkontribusi. Bisa jadi, terdapat pola dalam organisasi yang secara tidak sadar membuat kesempatan lebih sering diberikan kepada kader yang telah dianggap  mampu dan dapat diandalkan.

Biasanya, mereka adalah kader yang sudah memiliki pengalaman, mampu bekerja dengan cepat, memahami alur kepanitiaan, dan dinilai dapat membantu kegiatan berjalan dengan lancar. Dari sisi pelaksanaan program, pola seperti ini memang terasa lebih aman dan efisien. Namun, apabila pola tersebut berlangsung dalam jangka panjang tanpa diimbangi dengan pengembangan kader lain, organisasi berpotensi menghadapi persoalan lain yang lebih besar, yaitu semakin sedikitnya kader yang memiliki pengalaman dan kemampuan untuk menjalankan organisasi.

Menurut saya, organisasi mahasiswa tidak hanya berbicara tentang bagaimana sebuah kegiatan dapat terlaksana dengan baik. Ada proses belajar dan pengembangan anggota yang juga tidak kalah penting. Di dalam organisasi tentu ada kader yang masih belajar, masih mencari pengalaman, dan membutuhkan ruang untuk mencoba. Terputama bagi anggota yang baru bergabung, mereka tidak mungkin langsung memiliki kemampuan seperti kader yang sudah lama berkecimpung dalam kepanitiaan.

Lalu, jika kesempatan dalam setiap kegiatan lebih sering diberikan kepada kader yang sudah terbukti mampu, bagaimana kader yang belum berpengalaman dapat memperoleh ruang untuk belajar?

Seseorang yang hari ini dianggap sebagai kader yang dapat diandalkan tentu tidak muncul begitu saja. Ada proses di belakangnya. Bisa jadi, dahulu ia juga pernah diberikan kesempatan untuk mencoba, menerima tanggung jawab, melakukan kesalahan, mendapatkan evaluasi, lalu belajar dari pengalaman tersebut. Karena itu, menurut saya, salah satu cara untuk menciptakan lebih banyak kader yang dapat diandalkan adalah dengan mulai membagi kesempatan dalam kepanitiaan.

Hal ini bukan berarti kader yang sudah berpengalaman tidak perlu dilibatkan lagi. Justru pengalaman mereka tetap dibutuhkan. Namun, keterlibatan tersebut dapat diarahkan sebagai bentuk pendampingan, bukan selalu sebagai pihak yang mengerjakan atau memegang kendali utama. Misalnya, seseorang yang sebelumnya menjadi koordinator dapat memberikan kesempatan kepada kader lain untuk mencoba posisi tersebut pada kegiatan berikutnya, sementara ia tetap mendampingi dan memberikan arahan ketika diperlukan.

Dengan pola seperti itu, kader yang berpengalaman tetap memiliki peran penting dalam menjaga kualitas kegiatan, tetapi kader lain juga memperoleh ruang untuk berkembang. Organisasi tidak hanya menyelesaikan program, tetapi sekaligus menciptakan proses kaderisasi melalui pengalaman nyata.

Pemberian tanggung jawab pun tidak harus dilakukan secara langsung dalam skala besar. Bagi kader yang baru pertama kali terlibat dalam kepanitiaan, tugas sederhana dapat menjadi tahap awal untuk mengenal cara kerja organisasi. Setelah mulai memahami alur kerja, komunikasi, pembagian tugas, hingga penyelesaian masalah, barulah tanggung jawab dapat ditingkatkan secara bertahap.

Dengan demikian, proses belajar tidak terasa seperti “dilempar” langsung ke tanggung jawab besar, tetapi berlangsung secara bertahap dan terarah.

Hal tersebut juga sejalan dengan penelitian Torrico dkk. (2025) yang menunjukkan bahwa pengalaman belajar dalam kelompok, termasuk adanya pergantian peran kepemimpinan dan pemberian tugas yang semakin menantang, dapat membantu meningkatkan keyakinan mahasiswa terhadap kemampuan kepemimpinannya. Artinya, pengalaman langsung dalam menjalankan sebuah peran dapat menjadi bagian penting dari proses seseorang dalam membangun kemampuan kepemimpinannya.

Dalam proses tersebut, tentu tidak semua kegiatan akan berjalan sempurna. Kesalahan, kekurangan, ataupun hal-hal yang tidak sesuai dengan rencana merupakan sesuatu yang sangat mungkin terjadi. Menurut saya, hal tersebut tidak selalu harus dipandang sebagai kegagalan. Selama kesalahan tersebut dapat dievaluasi, diperbaiki, dan dijadikan pembelajaran, justru dari situlah kader mendapatkan pengalaman yang berharga.

Sebab, ketika keberhasilan kegiatan lebih banyak diukur dari kesempurnaan pelaksanaannya, organisasi cenderung memilih orang-orang yang telah terbukti mampu.  Akibatnya, kader yang belum memiliki pengalaman akan terus berada di posisi yang sama. Mereka tidak mendapatkan kesempatan untuk mencoba karena dianggap belum mampu, sementara mereka tidak akan pernah menjadi mampu jika tidak pernah diberi kesempatan.

Di sinilah menurut saya pentingnya organisasi mahasiswa melihat keberhasilan dari dua sisi. Pertama, keberhasilan dalam merealisasikan program kerja. Kedua, keberhasilan dalam mengembangkan orang-orang yang ada di dalamnya.

Karena itu, ketika muncul pertanyaan, “Kok kader itu-itu lagi yang berkontribusi?”, jawabannya tidak cukup hanya dengan mengatakan bahwa kader lain kurang aktif atau kurang memiliki inisiatif. Kita juga perlu bertanya kembali: sudahkah organisasi memberikan ruang yang cukup bagi mereka untuk berkontribusi?

Sebab, kader yang belum terlihat aktif belum tentu tidak memiliki kemampuan. Bisa saja mereka belum mendapatkan kesempatan, belum memahami bagaimana cara berkontribusi, atau bahkan belum pernah diberikan kepercayaan untuk memegang tanggung jawab tertentu.

Memang, melibatkan orang-orang yang sudah berpengalaman akan membuat pekerjaan terasa lebih aman dan cepat selesai. Namun, jika pola tersebut terus dipertahankan, organisasi akan semakin bergantung kepada orang yang sama. Sebaliknya, ketika pimpinan mulai memberikan ruang, mendampingi proses belajar, serta membagi tanggung jawab secara bertahap, perlahan akan muncul lebih banyak kader yang memiliki kemampuan dan pengalaman.

Pada akhirnya, keberhasilan organisasi mahasiswa tidak hanya dapat dilihat dari seberapa sukses sebuah acara terlaksana. Lebih dari itu, keberhasilan juga dapat dilihat dari seberapa banyak orang yang tumbuh setelah melewati proses di dalamnya.

“Jangan sampai orientasi pada efektivitas pelaksanaan kegiatan membuat organisasi lebih sering mengandalkan kader yang sudah berpengalaman, sementara ruang bagi kader yang sedang belajar untuk berkembang menjadi semakin terbatas.”

Karena kader yang hari ini belum bisa diandalkan bukan berarti tidak mampu. Mungkin mereka hanya belum pernah diberi kesempatan untuk membuktikannya.

Jika hari ini organisasi berani memberikan ruang bagi kader untuk mencoba, belajar, dan berkembang, maka ke depannya organisasi tidak harus terus bergantung pada kader yang sama. Akan semakin banyak kader yang siap mengambil tanggung jawab, melanjutkan estafet kepemimpinan, dan membawa organisasi berkembang lebih jauh.

AdmIMM

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Ar-Razy merupakan salah satu komisariat dari organisasi otonom Muhammadiyah, yaitu Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), yang berada di lingkungan perguruan tinggi Muhammadiyah umumnya pada tingkat fakultas atau program studi.IMM sendiri berdiri pada 14 Maret 1964 di Yogyakarta sebagai gerakan mahasiswa Islam yang berfokus pada tiga bidang utama: keagamaan, kemahasiswaan, dan kemasyarakatan. Tujuan utamanya adalah membentuk akademisi Islam yang berakhlak mulia dalam rangka mencapai cita-cita Muhammadiyah.

Lihat Semua Postingan